 Pencak Silat Merpati Putih adalah merupakan peninggalan dari
keluarga kerajaan Indonesia. MP di kembangkan pada tahun 1550 dan di
turunkan dari generasi ke generasi dengan sangat ketat, dari Ayah ke
anak-anak nya, dan hanya di ajarkan oleh raja untuk penerusnya. Selama
lebih dari 400 tahun, MP sangatlah jarang bisa di lihat oleh orang awam
diluar keluarga kerajaan.
Dengan Merpati Putih, kita dapat mempelajari cara-cara membela diri dan
menyembuhkan diri sendiri, yang pada saat bersamaan menjadikan kita
menjadi lebih pengasih, tenteram dan meningkatkan spritualitas kita.
Pada saat ini, sudah lebih dari 1.000.000 orang Indonesia yang
mempelajari tehnik dari MP dengan lebih dari 100.000 anggota yang
aktif. MP tidak hanya menjadi anggota dari Ikatan Pencak Silat
Indonesia (IPSI), tetapi juga dijadikan sebagai latihan standard untuk
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Komando Pasukan
Militer (Kopassus) serta Pasukan Pengawal Presiden.
Beladiri Merpati Putih sendiri berawal dari Sampeyan Dalem Inkang
Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng
Ing Kartosuro, yang di turunkan langsung untuk anak-anak beliau.
Beladiri ini kemudian di wariskan kepada Raden Saring Hadi Purnomo,
yang menjadi ketururunan ke-10 (Grat-X) dari Kartosuro. Berikut adalah
daftar lengkap garis keturunan Kartosuro :
| BPH ADIWIDJOJO |
GRAT I |
| PH SINGOSARI |
GRAT II |
| R Ay DJOJOREDJOSO |
GRAT III |
| GAGAK HANDOKO |
GRAT IV |
| RM REKSO WIDJOJO |
GRAT V |
| R BONGSO DJOJO |
GRAT VI |
| DJO PREMONO |
GRAT VII |
| RM WONGSO DJOJO |
GRAT VIII |
| KROMO MENGGOLO |
GRAT IX |
| SARING HADI POERNOMO |
GRAT X |
POERWOTO HADI POERNOMO
BUDI SANTOSO HADI POERNOMO |
GRAT XI |
Latar belakang
didirikannya PPS Betako Merpati Putih adalah hasil pengamatan Sang Guru, Saring
Hadi Poernomo pada awal tahun 1960-an yang prihatin terhadap perkembangan
kehidupan generasi muda yang terkotak-kotak membentuk kelompok-kelompok yang
mencerminkan rapuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah milik bangsa Indonesia,
oleh karena itu setiap warga negara Indonesia mempunyai tanggung jawab, hak, dan
kewajiban yang sama dalam melestarikan kehidupan bangsa dan mencapai tujuan
negara. Seni budaya Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa
merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dibina dan dikembangkan guna
memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila, kepribadian bangsa, mempertebal
harga diri dan kebanggaan nasional serta memperkokoh jiwa persatuan.
Atas dasar hal tersebut tergerak hati nurani
beliau untuk berbuat sesuatu demi kecintaannya pada nusa, bangsa, dan negara.
Sumbangsih beliau hanya didasari keyakinan bahwa "sikap dan perbuatan sekecil
apapun, apabila dilandasi oleh itikad baik pasti akan ada hasilnya". Keyakinan
tersebut hingga kini menjadi semboyan perguruan yaitu:
SUMBANGSIHKU TAK SEBERAPA
NAMUN KEIKHLASANKU NYATA.
Dalam mengembangkan ilmu beladiri ini Sang Guru
mengamanatkan empat sikap, watak, dan perilaku yang harus ditumbuhkan yaitu: (1)
rasa jujur dan welas asih, (2) percaya pada diri sendiri, (3) keserasian dan
keselarasan dalam penampilan sehari-hari, dan (4) menghayati dan mengamalkan
sikap itu agar menimbulkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan
amanat Sang Guru, kedua pewaris yang juga puteranya, yaitu Poerwoto Hadi
Poernomo dan Budi Santoso Hadi Poernomo bertekad mengambil langkah nyata dalam
pengabdian kepada bangsa dan negara Republik Indonesia dengan mengembangkan dan
menyebarluaskan ilmu yang dimiliki keluarga untuk kepentingan nasional.
Atas berkat dan rakhmat dari Tuhan pada tanggal 2
April 1963 di Yogyakarta, kedua pewaris membentuk Perguruan Pencak Silat
Beladiri Tangan Kosong MERPATI PUTIH dengan filosofi MERSUDI PATITISING TINDAK
PUSAKANE TITISING HENING, yang secara harafiah berarti "Mencari sampai mendapat
tindakan yang benar dalam ketenangan".
Pada periode 1995-1998 ini Ketua umum organisasi
PPS Betako MERPATI PUTIH adalah Letjen TNI (Purn) Solihin GP, sedangkan Dewan
Pembinanya adalah Bapak Surono, Bapak Tjokropranolo, Bapak Sugiarto, Bapak
Ismail Saleh, SH., Bapak Ir. Azwar Anas, Bapak Ir. Hartarto, dan Bapak Eddy M.
Nalapraya.
FILOSOFI
Merpati Putih, sebuah nama yang mengandung arti
luas dan mendalam, singkatan dari "Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising
Hening, yang secara harafiah dapat diartikan dengan "Mencari sampai mendapatkan
tindakan yang benar dalam ketenangan".
Ungkapan tersebut kemudian menjadi dasar filosofis perguruan yang menggambarkan
semangat dan dinamika anggota dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Masih banyak yang perlu dipahami oleh anggota
dalam kaitannya dengan filosofis perguruan serta hal-hal yang terkandung dalam
EMPAT SIKAP, WATAK DAN PERILAKU. Masih banyak pula yang harus dikerjakan oleh
pengurus di seluruh jajaran organisasi agar pengkajian, penghayatan dan
pelaksanaannnya dapat memberikan manfaat bagi manusia.
TRY-PRASETIA adalah janji yang harus diucapkan
oleh setiap anggota yang menunjukkan tekad mereka akan sebuah kesepakatan.
Keterikatan dan peran serta baik pribadi maupun bersama dengan anggota lain
adalah suatu konsensus, yang meliputi :
- Taat dan Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Mengabdi dan berbakti kepada Nusa, Bangsa dan
Negara Indonesia
- Setia dan taat kepada perguruan
Dalam rangka meningkatkan peran serta anggota
terhadap misi Merpati Putih serta peran serta perguruan dalam pembinaan dan
pengembangan budaya bangsa Indonesia, ditetapkan semboyan yang diharapkan
memotivasi perwujudan peran serta tersebut, yaitu : "SUMBANGIHKU TAK
SEBERAPA NAMUN KEIKHLASANKU NYATA"
Dengan demikian tanggung jawab tersebut tidak hanya berlaku bagi diri pribadi
tapi lebih jauh lagi adalah kewajiban perguruan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
AMANAT SANG GURU"
Saat ini aku merasa ada harapan mampu mewariskan
ilmu-ilmu yang kumiliki ini kepadamu. Akan tetapi bukan berarti sampai disini
saja tujuannya. Dan mulai saat ini pula kita harus memberanikan dari mengamalkan
ilmu tersebut demi kepentingan masyarakat banyak.
Artinya, ilmu ini tidak hanya diturunkan kepada
keluarga saja, melainkan dikembangkan juga untuk kepentingan masyarakat.
kembangkanlah untuk kepentingakn Nasional. Amalkan untuk kepentingan Nusa,
Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Sebab dengan cara kita berusaha mengembangkan
budaya bangsa, sama artinya kita mempertahankan identitas bangsa. Karena budaya
adalah salah satu unsur perwujudan kepribadian bangsa.
Pencak silat sebagai alah raga bela diri besar
manfaat dan faedahnya dalam pembentukan diri dan pribadi. "Diri melihat bentuk
fisik, yang artinya kondisi fisik sehat, sedang pribadi, dilihat dari segi
penampilan, sikap budi, yang lebih cenderung disebut : sikap mental dan moral"
Empat sikap watak dan prilaku yang menjadi banyak
orang belajar pencak silat :
- Akan menumbuhkan rasa jujur dan welas asih.
- Menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri
sebab didasarkan pada kemampuan yang dimikliki diri pribadi.
- Dalam mempelajari pencak silat akan mendalami
masalah keserasian dan keselarasan gerak, dan hal ini terwujud dalam sikap
serta penampilannya sehari-hari.
- Bagi pesilat yang benar-benar menghayati apa
yang didapatkan dari sistem pelajaran akan menimbulkan ketakwaan terhadap
Tuhan yang Maha Esa.
"Kepribadian yang kuat, memahami hidap dalam
kehidupan" |